Friday, March 04, 2005

L'sbian Package



1
Sabuka, Kahlua & Vodka

Jakarta, suatu malam, pukul 19.48 Wib. Dari sebuah pojok kafe, di hotel berbintang lima, di bilangan Senayan. Laki-laki itu menyeruput sebotol bir Corona hingga tersisa separuhnya. Matanya mengamati keadaan sekeliling. Tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Musik mengalun pelan. Udara AC terasa dingin. Laki-laki itu menyalakan sebatang rokok Marlboro.

"Mau coba minuman lainnya, Mas?"
Suara bartender mengagetkannya. Laki-laki itu menoleh. Ah, pemilik suara itu tidak tahunya seorang perempuan. Dia mengenakan t-shirt hitam dan menguncir rambutnya ke belakang. Sorot matanya tajam tapi senyumnya ramah. Dan satu lagi, wajahnya yang bulat telur itu terlihat berbinar.
"Emang ada yang paling spesial di sini?" laki-laki itu balik bertanya.
"Yang paling spesial adalah racikan saya sendiri," jawab perempuan bartender itu, yakin.
"Oh ya? Lo serius? Dijamin enak nggak?" sambung laki-lali itu.
"Kalo dijamin enak, saya nggak janji. Tapi kalo dijamin mabuk, saya jamin."
Laki-laki itu menghembuskan asap rokoknya ke langit-langit. Belum ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Perempuan bartender itu masih berdiri di tempatnya. Dia masih menunggu sambil membenahi beberapa botol minuman yang ada di depannya.
"Nama lo siapa?" laki-laki itu malah balik bertanya lagi. Perempuan itu bartender itu terdiam sesaat.
"Risa, Mas."
"Nama gue Adit," laki-laki itu mengulurkan tangannya. Risa menyambutnya tanpa ragu lagi.
"Jadi nyobain minuman racikan saya, Mas?" tanya Risa setelah proses perkenalan yang lebih pas disebut sebagai basa-basi itu.
"Oke, boleh deh. Tapi kalo gue mabok, lo yang tanggung jawab ya."
"Waduh, mana bisa begitu. Kalo mas mabuk, jadi urusan mas sendiri. Gimana?"
"Bagaimana kalo kita minum bareng saja?" tawar Adit. Kali ini, pandangannya menatap tajam ke arah Risa.
"Nggak boleh. Ntar saya dimarahin sama manejer."
"Nggak papa. Ntar gue yang ngomong kalo ketahuan."
Risa ragu untuk sejenak. Tak lama, ia mulai mengambil dua gelas shooter dan mengambil 3 botol sekaligus : kahlua, vodka dan sabuka. Dengan cekatan, tangan Risa yang mungil itu menyampur tiga jenis minuman beralkohol itu dalam satu gelas. Hanya butuh waktu tak kurang dari 10 menit, dua gelas minuman itu sudah siap ditenggak. Risa memasukkan dua biji kopi ke dalam gelas.
"Untuk apa biji kopinya?" tanya Adit.
"Untuk menetralisir, mas. Coba aja dulu minumannya, baru boleh komentar."
"Oke. Cheeers...!"
Adit dan Risa sama-sama mengangkat gelas dan ber-toast. Sekali teguk, minuman itu langsung tak bersisa. Ada aroma segar yang keluar dari hidung Adit. Aroma itu tak ubahnya seperti hexos. Biji kopi yang rasanya pahit itu, ternyata menjadi sangat enak di lidahnya.
"Enak. Minuman tadi apa namanya?" Adit mengucapkan kata-katanya dengan begitu lepas.
"Belum tau, mas. Saya sendiri pernah memberinya nama. Saya juga iseng-iseng membuatnya kalo pas lagi nggak banyak kerjaan."
"Mendingan kasih nama Iseng-Iseng Mabora saja. Bagus nggak?" usul Adit.
"Boleh-boleh saja. Tapi di kafe ini menunya belum tertulis. Biasanya, hanya untuk tamu-tamu yang kenal saya saja."
"Kalo gitu, besok usulin saja masuk di list minuman."
Mereka tertawa. Adit dan Risa terus terlibat pembicaraan. Ada keakraban yang tiba-tiba hadir. Tanpa terasa, sudah lebih dari 5 gelas minuman Iseng-Iseng Mabora telah mereka habiskan. Muka Adit mulai memerah. Gerak tubuhnya juga mulai tidak stabil. Gaya bicaranya mulai agak ngaco. Seringkali, tidak sesuai dengan topik pembicaraan. Risa melihat itu semua dengan tersenyum kecil.
"Udah tipsy ya, mas?" tanya Risa, memastikan.
"Iya nih. Kepala gue mulai berat. Boleh juga minuman racikan lo." jawab Adit, jujur.
"Mendingan mas istirahat aja di kamar. "
"Nggak enak di kamar sendirian."
"Kalo gitu, panggil saja massage-girl. Kan enak kalo lagi mabuk ada yang mijitin." saran Risa dengan fasih.
"Boleh juga ide lo. Ada rekomendasi yang lucu-lucu nggak?"
"Bentar ya, saya tanya temen dulu." Risa mendekati waiter laki-laki yang berdiri tak jauh bar lalu balik lagi tempatnya.
"Panggil saja Sonya. Kalo nggak, Laura. Dua-duanya lucu kok."

6 comments:

Hubby said...

membaca EMKA sama sama saja seperti membaca diriku sendiri dan membaca berjuta HATI yang lain...
EMKA membawa kita melihat kenyataan bahwa tak ada PUTIH yang sempurna... KELABU pasti tersamar diantara bersihnya PUTIH...bahkan mungkin dan sangat mungkin HITAM ada dibaliknya... dan itu nyata adanya.
Sebaliknya ternyata HITAM tak mampu menutup mata hati merasakan lima huruf... C I N T A...!

esperanza said...

wataw..aje gile si mas emka ini. Pas Za pulang kemarin, Za mborong buku-nya (trilogi-nya JUC, halah mau bilang 3 buku aja kok ya susah!!) Lumayan buat baca2 di train, meski itu berarti berat di koper he..he. Tp Asik memang buat killing time on d train, dengan ngakak sbg komplemen-nya (lah nek gak ku..ku..piye coba!!) gmana nggak nek lutchuu tenan. Wis mas tak tunggu sing baru2 ya, semoga aja bisa dikirim dimari. cheers...keep on membuku

esperanza said...

he..he..seru-nya mas emka- ini nek bikin buku. Lutchu, konyol, tp kok ya mengena. Kemarin J (my name) plng ke yogya trus borong 3 buku (karena hanya itu yang tersedia di toko-nya).Lumayan buat baca2 di train, yg hasilnya bikin J ngakak sendiri (nggak ku..ku..untuk gak ketawa, drpd jadi kentut hayoo). Well salut d buat buku-nya. thx untuk sharing-nya. trus membuku ya?!!tak tunggu terus loh

esperanza said...

he..he..seru-nya mas emka- ini nek bikin buku. Lutchu, konyol, tp kok ya mengena. Kemarin J (my name) plng ke yogya trus borong 3 buku (karena hanya itu yang tersedia di toko-nya).Lumayan buat baca2 di train, yg hasilnya bikin J ngakak sendiri (nggak ku..ku..untuk gak ketawa, drpd jadi kentut hayoo). Well salut d buat buku-nya. thx untuk sharing-nya. trus membuku ya?!!tak tunggu terus loh

moammaremka said...

thanks buat komen2-nya. buka juga dong www.emkamoammar.com...disini update terus....

moammaremka said...

COMINS SOON ON AUGUST 2008 : TUMPANG TINDIH (Kolor 'n the city). temanya sih : gaya hidup eror under kolor.