Thursday, February 02, 2012

Bahagia itu, kamu.

Dear #M. Karena tak butuh satu alasan pun untuk [tidak] berbahagia saat aku jatuh cinta, dan seterusnya jatuh cinta [kepadamu]. Sejak kau izinkan aku tinggal di hatimu, tak ada lagi tempat yang kutuju: selainmu. Di sudut hatimu aku ingin mengaduh bahagia, tanpa jera. Di sudut hatimu, aku ingin tinggal selamanya. Menuliskan cerita bahagia, tanpa jeda. Jelas sudah! Tak perlu kucari bahagia lagi; karena di kamu, bahagiaku itu.

Friday, January 06, 2012

Aku memanggilmu, #M

Kepada #M: Dengan kalimat apa aku menuliskan arti hadirmu? Sebagai debar yang tiba-tiba gemetar untuk mengharapmu atau rindu yang diam-diam menggebu? Sudah lama aku membiarkan rasa yang diam terjaga dalam kesenyapannya; sampai perjumpaan kedua menggelitik getar itu lagi, telak. Maaf, jika itu terjadi begitu saja. Apakah aku terlambat; bahkan sebelum sempat kubaca hati [mu] ? Sungguh, aku tak menginginkan itu, karena esok dan seterusnya aku akan menunggu kerlingan manja, dan senyuman malu-malu yang kau titipkan pada arakan senja, seperti kemarin.

Thursday, December 22, 2011

Sedetik pun tak lupa

Di lentik jemarimu, rengkuh genggamanku memudar, dan kini rindu menularkan sakit kesepian. Dan, tujuanku tak kemana. Di pinggir bibirmu, kuingin menepi. Berteduh dari rindu yang mengaduh. Sesering kita mengingkari hati, sedalam tak terukur kita membodohi diri sendiri. Sedalam inginku berlari mengingkari, secepat getarku kembali bertekuk lutut di hatimu, satu-satunya. Sedetik tak lupa, sekujur tubuhmu adalah segenap ingatan yang mencetak satu rindu, sebenarnya. (Moammar Emka dalam DEAR YOU, halaman 328-329)

Tuesday, December 06, 2011

DEAR YOU

Dear you: Untuk apa jauh-jauh lagi mencari, sementara dalam dirimu saja aku sudah menemukan alasan hidup: bahagia bersamamu. **** Karena hanya di hatimu aku berhenti mencintai. Pada segalamu, cinta tak kutakar lagi. Dan, Telah kubaca dari segala gerak hatimu. Kuberkaca tak jera; agar menjadi kita, suatu ketika. Dan, Aku mencintaimu di luar pemahaman. Selesai! Dan, aku bahagia. Cukup! **** Buku ini dipersembahkan untuk cinta, demi cinta, dan kepada cinta. Ingat-ingatlah semua pagi yang kau syukuri karena masih bisa terbangun di sisinya, semua siang yang kau habiskan dengan merindukannya, juga malam-malam yang kau tutup dengan doa memohon kebahagiaannya. Temukan cerita tentang cintamu di buku ini, dan bersiaplah jatuh cinta lagi.

Thursday, October 06, 2011

Entah

Haruskah kita tak acuh dan mengingkari rasa saling itu? Buncah rasa luar biasa saat bersamamu, tak merangkul waktu lagi. Dan aku tak terbiasa. Sendiri lagi, sanggupkahku? Dalam sadarku telah kusunting luka. Dan kuterima, sakitnya memang luar biasa. Inikah yang kubela? Maaf, aku tak menyajikan apa-apa kecuali seikat kebersamaan. Aku pikir, kamu mulai kecewa. Mungkinkah? Jawabnya cuma ada : ENTAH! Entah dimana, entah kapan masanya, cinta itu memanggilku lagi? Jika itu terjadi, semoga kamu lah tujuanku berlari —sekali lagi.

Monday, October 03, 2011

Meratapi kebahagiaan

Apa yang kurindukan saat ini? Menangis di sudut bibirmu. Lalu, membiarkan diriku meratapi kebahagiaan yang menjamu barisan hari, saat atau tidak bersamamu. Hari itu, detik ini, dan —mungkin, nanti. Sejauh kaki melangkah, tak surut membabibuta jejakku menilas ranah penyatuan perasaan dari keterpisahan —jarak juga kenyataan. Memerdekakan diri sejenak, lalu bertekuk lutut di hatimu —lagi, satu-satunya. Entah dimana, dan kapan masanya. Hanya itu, kuasaku sepertinya. ----> Silakan mampir juga ke www.moammaremka.tumblr.com

Friday, September 16, 2011

Keramat Rindu



Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa.

Tak mampu kutepikan. Nyatanya, rumah hatimu adalah tumpah rinduku. Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia.

Jika boleh memilih, aku membutuhkan rindu sebagai kata keramat yang ingin kudengar dari bibirmu, setiap hari. Seperti berpuluh malam yang kita pahat dengan napas surgawi. Seperti berpuluh mimpi yang kita hias dengan warna pelangi.

Sunday, August 07, 2011

Cetak biru janji



Diam diam aku merindukan jarak. Di silang perjalanannya, pentahbisan cintaku menemui batu ujiannya. Kukuh erat mendekapmu dalam kepatuhan dan penyatuan janji atau berseteru dengan nalar dan hati.

“Lalu dimana janji penyatuan itu?”

Aku menyimpannya di cetak biru kenangan.

“Kapan kau tepati janjimu?”

Ketika tak ada alasan yang kutemukan selain dirimu.

Where do you stay?



"Where do you live?"
In your heart.
"I mean, where do you stay?"
Ohh, I see. Yes, been in you since a long time.

"Ooo, thank you stay in me."
"Ooo, I mean thank you. You have been staying in me."

Monday, April 11, 2011

PATAH

VIDEO CINTA ITU, KAMU.

ENTAH



Haruskah kita acuh dan mengingkari rasa saling itu?

Buncah rasa luar biasa saat bersamamu, tak merangkul waktu lagi. Dan aku tak terbiasa. Sendiri lagi, sanggupkahku?

Dalam sadarku telah kusunting luka. Dan kuterima, sakitnya memang luar biasa. Inikah yang kubela?

Maaf, aku tak menyajikan apa-apa kecuali seikat kebersamaan. Kupikir, kamu mulai kecewa. Mungkinkah?

Jawabnya cuma ada : ENTAH!

Entah dimana, entah kapan masanya, cinta itu memanggilku lagi? Jika itu terjadi, semoga kamu lah tujuanku berlari —sekali lagi.

Thursday, January 20, 2011

KERAMAT RINDU



Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa.

Tak mampu kutepikan. Nyatanya, rumah hatimu adalah tumpah rinduku. Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia.

Jika boleh memilih, aku membutuhkan rindu sebagai kata keramat yang ingin kudengar dari bibirmu, setiap hari. Seperti berpuluh malam yang kita pahat dengan napas surgawi. Seperti berpuluh mimpi yang kita hias dengan warna pelangi.

Monday, December 27, 2010

Di Titik Nol, Permisi



Sejenak yang melelapkan. Lalu barisan kenangan pahit menerbitkan kembali luka itu. Menciutkan hasrat tunas untuk bersemi. Kelopak bunga masih jauh dari mekar, bahkan dalam ketakutannya layu teranggas terik matahari.

Cukup sampai di sini. Adalah kita, tak ada —lagi.

Aku akan berdiri di jalanku. Mengundurkan diri sebagai tiang dan jembatan tanpa sebab, untukmu.

Dan seterusnya, tanpa ijinmu aku akan berlari dan menari dalam gerimis pagi, —sendiri. Permisi…!!!

Tuesday, November 16, 2010

RUANG TANPA KATA




Di ruang tanpa kata, rindu itu tersandera. Menjadi tahanan di taman kota yang tak lelah memproklamirkan janji-janji penyatuan. Riuh menggelitik getar yang lama tersimpan di tebing ketakutan.

Di ruang tanpa kata, rindu itu tunduk teduh pada keakuan perasaan. Setia berkelok pada muara hati yang bernaung atas nama cinta. Tanpa syarat, merelakan diri berkubang tawa-merekah dan peluh-gelisah yang silih berganti memamah bahagia juga luka.

Di ruang tanpa kata, kesetiaan itu tetap terjaga. Menunggu datangnya masa saat perjamuan mencetak nyata. Dua wajah bertemu, saling tatap dari kedalamannya dan menghidangkan cinta sebagai menu utama yang merunut pada mata hati, senyatanya.

Friday, October 29, 2010

RBT Cinta Ini Jangan Berakhir - Cinta Itu, Kamu.

Meratapi Kebahagiaan



Apa yang kurindukan saat ini? Menangis di sudut bibirmu.

Lalu, membiarkan diriku meratapi kebahagiaan yang menjamu barisan hari, saat atau tidak bersamamu. Hari itu, detik ini, dan —mungkin, nanti.

Sejauh melangkah, tak surut membabibuta jejakku menilas ranah penyatuan perasaan dari keterpisahan —jarak juga kenyataan.

Memerdekakan diri sejenak, lalu bertekuk lutut pada hatimu —lagi, satu-satunya.

Hanya itu, kuasaku sepertinya.

Sunday, October 24, 2010

ADALAH SEMATAMU.



Rindu. Satu satunya kemewahan yang kumiliki. Ada padamu, titik! Selalu ingin kuberi dan tak ingin kuingkari.

Pada larik-lariknya, aku bisa berkaca tentang dambaku yang merajuk senyap, dan memendarkan getar pesakitan. Setia tergopoh berlari ke arahmu, kapan pun itu.

Adalah semata dirimu yang membuat diriku merasa luar biasa.

Adalah rekah-tawa dan lebam-tangis yang membuat kebersamaan kita selama ini menjadi berharga dan bermakna.

Adalah dirimu, semata sebab yang menghadirkan bahagiaku berlinang air mata.